Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2019

Sebuah Ucapan Selamat Untuk Dea

Gambar
Jumat barokah. Hari ini adalah salah satu hari yang paling dinanti oleh Dea, pasalnya pengumuman seleksi penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang seharusnya jatuh pada tanggal 18 Desember kemarin diundur menjadi hari ini. Sebenarnya sejak semalam saya yang gelisah. Di tengah menahan rasa pusing di kepala karena bantal tidak cukup empuk menahan benjolan kepala akibat jatuh pas futsal, terngiang-ngiang juga bagaiamana hasil seleksi Dea hari ini. Tambah pusing dan tidak bisa tidur. Sebenarnya saya adalah orang yang paling tidak siap mendengar hasil buruk   dari seleksi ini. Apa sebab? Sebab saya sedikit banyak tahu dan mengikuti ‘percintaan’ antara Dea dan beasiswa LPDP. Sekitar pertengahan 2016, kalau saya tidak salah ingat Dea pergi mengunjungi acara yang dihelat LPDP di salah satu kampus di Jogja. Dea bolak-balik Jogja dengan Prameks, untel-untelan . Dua hari setelah itu saya datang ke Solo untuk suatu urusan. Jika berkujung ke Solo biasan...

Ibu, Pecakan Cucut dan Sayur Asem

Tepat tiga tahun lalu Ibu pulang kampung. Setelah sekian tahun berjuang dengan gigih dan berani melawan penyakitnya di dunia, Akhirnya Tuhan dengan segala welas asihnya memberikan kemenangan untuk Ibu. Sebagai imbalan atas kemenangan Ibu, Tuhan menyuruh Ibu mengambil hadiahnya di kampung halaman. Ibu pulang kampung sendirian, meninggalkan Bapak, adik, kedua mbakyu dan aku. Kemenangan Ibu sangat mendadak. Ibu tidak mengucapkan kata-kata pamit apa pun kepadaku. Sebab saat mendengar kabar ibu akan pulang, aku sedang UAS di kampus. Setelah aku sampai di rumah, Ibu sudah berkemas. Ibu hanya diam dan tersenyum. Kami hanya mengantar Ibu sampai terminal. Dan Ibu benar-benar pulang sendirian. Semua penduduk di sini adalah perantau dari kampung halaman yang sama. Aku sadar, sebagai perantau suatu saat akan pulang. Namun aku tidak menyangka Ibu akan pulang secepat itu. Ada banyak hal yang belum aku selesaikan dengan Ibu. Ada banyak janji dalam hati yang belum aku tunaikan. Tapi aku yakin, ...

Menelpon Bapak yang Ada di Sebrang Borneo

Gambar
Barusan saya menelpon bapak. Seperti biasa menanyakan kabar beliau dan cerita-cerita ringan. Tetapi kok banyak suara kemrungsung di sana. “Ono opo pak kok rame banget?” “Biasa ndong, sek mbagi bayaran ora mudeng-mudeng”, jawab bapak sambil tertawa. “Owalah, hahaha” Pikiran saya langsung terbang kembali ke masa kecil saya, saat usaha bapak sedang jaya-jayanya. Menjelang maghrib biasanya trek (truk) bapak pulang. Saya loncat-loncat kegirangan sambil bernyanyi “Bapak pulaang...Bapaak pulaaaang...”. Bapak pulang dengan wajah lelah tapi senyumnya mengisyaratkan dia gembira. Kemudian tiba saatnya pembagian “bayaran”. Satu trek biasanya dua tukang sekop dan satu sopir. Bapakku sopir dan kedua temannya yang jadi tukang sekop. Saat itu sekitar tahun 2000 an awal. Bayaran sopir per rit untuk muatan pasir sekitar 50 rb dan tukang sekop 70 rb untuk berdua. Tinggal dikali saja hari itu ada berapa rit. Rata-rata sih pada tahun-tahun itu ada 2-3 rit per hari. Seperti saya bilang itu ...