Menelpon Bapak yang Ada di Sebrang Borneo
Barusan saya menelpon bapak. Seperti biasa menanyakan kabar beliau dan cerita-cerita ringan. Tetapi kok banyak suara kemrungsung di sana.
“Ono opo pak kok rame banget?”
“Biasa ndong, sek mbagi bayaran ora mudeng-mudeng”, jawab bapak sambil tertawa.
“Owalah, hahaha”
Pikiran saya langsung terbang kembali ke masa kecil saya, saat usaha bapak sedang jaya-jayanya. Menjelang maghrib biasanya trek (truk) bapak pulang. Saya loncat-loncat kegirangan sambil bernyanyi “Bapak pulaang...Bapaak pulaaaang...”.
Bapak pulang dengan wajah lelah tapi senyumnya mengisyaratkan dia gembira. Kemudian tiba saatnya pembagian “bayaran”.
Satu trek biasanya dua tukang sekop dan satu sopir. Bapakku sopir dan kedua temannya yang jadi tukang sekop. Saat itu sekitar tahun 2000 an awal. Bayaran
sopir per rit untuk muatan pasir sekitar 50 rb dan tukang sekop 70 rb untuk berdua. Tinggal dikali saja hari itu ada berapa rit. Rata-rata sih pada tahun-tahun itu ada 2-3 rit per hari. Seperti saya bilang itu adalah saat jaya-jayanya bapak.
Saat pembagian bayaran itu lah biasanya bapak dan teman-temannya beresenda gurau. Ledek-ledekan satu sama lain. Kadang ada yang bingung kok dapat bayaran segini dari mana. Kemudian dihitung ulang lagi, dan tetep bingung. Kemudian tertawa. Asyik.
Meskipun mereka lelah, baju dan celana basah oleh keringat. Sering salah paham atau nggak mudeng dalam penghitungan bayaran. Tetapi mereka tertawa, pulang tidak dengan tangan kosong. Dapur ngebul, bisa kredit motor, keramik rumah, dan biaya anak sekolah aman.
Itu dulu saat jaya-jayanya bapak. Sehari bisa dua sampai tiga rit. Sebulan liburnya cuma 4 hari.
Sekarang keadannya berbeda. Tak jarang dalam satu bulan narik hanya 4 hari, sisanya libur. Sepi.
Orang-orang kecil seperti bapak dan teman-temannya sudah biasa tidak mengandalkan pemerintah. Tidak peduli dana desa yang seharusnya untuk menggerakkan ekonomi-ekonomi masyarakat desanya malah dibelanjakan menggunakan pemborong-pemborong dari kota demi memburu rente. Bangsat memang.
Tetapi percakapan kemrungsung dalam telpon tadi mengingatkan saya pada masa-masa itu. Semoga saja perputaran kecil ekonomi di desa membaik. Sehingga banyak orang-orang termasuk milenial bisa membangun rumah. Dan guyonan-guyonan saat bayaran terus terjadi menjelang maghrib. Tidak usah mengharapkan belas kasih program pemerintah. Tidak usah.

Komentar
Posting Komentar