Kenapa?

Dalam dua puluh empat jam terakhir Fina sudah menanyakan "kenapa" sebanyak lima kali. Kenapa...kenapa...kenapa...kenapa...kenapa. 

Kenapa yang pertama adalah bentuk ingin tahu dia tentang alasan di balik berhentinya jam dinding di dalam ruangan kerja kami. Aku jawab saja jam dindingnya sudah tidak nyaman berputar di ruang kerja ini. 

Kenapa yang kedua tentu muncul untuk mengejar jawaban kenapa yang pertama yang tidak memuaskan. Kenapa tidak nyaman? Hmm, mungkin jam dinding itu muak mendengarkan decitan dari printer tua yang sering macet. Ditambah Hafiz sering lupa mengisi ulang tinta. Sudah berisik hasil printnya pucat pasih. Tidak jelas. 

Kenapa yang ketiga kurang lebih sama, Fina masih belum bisa menerima penjelasanku. Aku melihat sekitar. Aku melambaikan tanganku memintanya untuk mendekat, kemudian berbisik padanya, "akan aku ceritakan, tapi ini rahasia?", dia langsung mengangguk, wajahnya makin antusias, "tenang saja aku biasa menjaga rahasia". Kemudian aku bercerita bahwa di dalam ruangan 3x5 m yang di isi sembilan orang ini sudah tidak layak, terlalu sempit. Belum lagi barang-barang sangat berserakan. Berkas-berkas dari tahun ke tahun menumpuk. Ada yang penting, banyak yang tidak. Tidak tertata tapi saling berhubungan. Komputernya tidak pernah dibersihkan.  Bau kaos kaki yang lupa dibawa pulang. Satu-satunya yang masih bagus hanyalah foto yang digantung di sebelah jam dinding. Tapi sepertinya foto itu tak terlihat oleh jam dinding karena terletak terlalu dekat dan sejajar dengannya. 

Raut muka Fina mulai geram tapi juga terlihat  menahan tawa dengan ocehanku yang melantur kemana-mana. "Sudah cukup, aku sudah tidak ingin mendengarnya". 
"Kenapa jamnya baru berhenti sekarang? Kenapa tidak dari kemarin?" 

Aku diam dan membatin, "Bukankah berhenti sekarang atau kemarin sama saja? Jam itu hanya sebagai petunjuk waktu di ruangan ini. Waktu tetap berjalan di ruangan ini, dan tentu saja, sesuka hatinya, seperti bajingan.".

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Raungan Ruangan