Sebuah Ucapan Selamat Untuk Dea
Jumat barokah. Hari ini adalah
salah satu hari yang paling dinanti oleh Dea, pasalnya pengumuman seleksi penerima
beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang seharusnya jatuh pada
tanggal 18 Desember kemarin diundur menjadi hari ini.
Sebenarnya sejak semalam saya yang
gelisah. Di tengah menahan rasa pusing di kepala karena bantal tidak cukup
empuk menahan benjolan kepala akibat jatuh pas futsal, terngiang-ngiang juga bagaiamana
hasil seleksi Dea hari ini. Tambah pusing dan tidak bisa tidur.
Sebenarnya saya adalah orang yang
paling tidak siap mendengar hasil buruk
dari seleksi ini. Apa sebab? Sebab saya sedikit banyak tahu dan
mengikuti ‘percintaan’ antara Dea dan beasiswa LPDP.
Sekitar pertengahan 2016, kalau saya
tidak salah ingat Dea pergi mengunjungi acara yang dihelat LPDP di salah satu
kampus di Jogja. Dea bolak-balik Jogja dengan Prameks, untel-untelan.
Dua hari setelah itu saya datang
ke Solo untuk suatu urusan. Jika berkujung ke Solo biasanya saya numpang tidur
di Istana Giri Bangun kosan Moh Nur Huda. Setelah nyusu Jack dan ngobrol
ngalor-ngidul ternyata Huda juga menghadiri acara LPDP di Jogja. Nah, di
situ saya bertanya ke Huda, apakah LPDP itu? Dan apa pentingnya sampai-sampai
banyak yang sengaja meluangkan waktu untuk datang ke acara itu.
Setelah dijelaskan Huda, saya jadi
paham kenapa beasiswa LPDP begitu menarik perhatian mahasiswa-mahasiswa. Saat
itu jangankan tahu beasiswa-beasiswa untuk S2, wong kepikiran untuk melanjutkan
kuliah S1 di mana saja belum. Dan pahitnya, sampai tulisan ini dibuat saya juga
belum tahu akan melanjutkan S1 di mana. Bangsat ya wkwkwk.
Pertengahan 2018 Dea wisuda. Dua
bulan kemudian dia berangkat magang ke Jepang. Tujuh bulan kemudian Dea pulang.
Seperti yang sudah direncanakan, setelah pulang Dea bakal mendaftar Beasiswa
ini.
Dea menyiapkan berkas-berkas. Mulai
dari berkas-berkas perkuliahan sampai sertifikat-sertifikat yang menjadi
persyaratan (TOEFL dan lain-lain). Dari tahap persiapan ini saja sebenarnya
sudah banyak dramanya. Tapi demi alasan keselamatan saya, saya urung
menuliskannya.
Singkat cerita berkas lengkap dan
dea tinggal menunggu pengumuman seleksi administrasi. Saya yang pelupa ini
seringkali tanya ke Dea kapan pengumumannya. Satu dua kali dijawab beserta foto
jadwal alur seleksi LPDP. Sisanya saya dimarahi karena lupa melulu. Padahal ya,
saya sebenarnya ingat dan kadang-kadang tanya hanya karena reflek saja bingung
mau nanya apa lagi di WA.
Pengumuman hasil seleksi administrasi,
Dea lolos. Saya senang dan sudah menduga. Kemudian Dea lanjut belajar untuk
seleksi tahap berikutnya, Seleksi Berbasis Komputer. Saya tidak tahu pasti apa
yang Dea pelajari, tugas saya hanya menuliskan kata semangat dan emot peluk. Wkakaka.
Dea lolos di seleksi berbasis computer
ini. Saya senang sekali Dea semakin dekat menjadi awardee LPDP. Tahap selanjutnya, adalah tes wawancara. Nah
ini yang agak deg-degan. Seleksi wawancara tidak bisa dipelajari seperti
tes-tes sebelumnya. Sangat luas dan hanya bisa mengira-ngira apa yang akan
ditanyakan pewawancara. Tugas saya masih sama, mengetik semangat dan emot
peluk. Apa pun masalahnya, solusinya semangat dan emot peluk. Wkwkw.
Tahap wawancara adalah tahap
akhir dari seleksi ini. Setelah wawancara Dea menelpon, dari nadanya Dea sedih
karena merasa wawancaranya tidak berjalan mulus. Kali ini saya teringat omongan
Cak Nun saat menyuruh Pak Harto mundur, dan saya modifikasi menjadi, “Rapopo,
De. Ra oleh LPDP ra patheken”. Yang artinya kurang lebih, Tidak apa-apa,
De. Tidak mendapat (beasiswa) LPDP tidak masalah (tidak begitu penting). Padahal
saya ya sangat cemas waktu itu. Wkwkw.
Seperti seseorang yang sedang menunggu
jawaban cinta sang kekasih. Ini lah harinya, tidak bsa tidur, panas dingin,
deg-degan, harap-harap cemas. Lumrah. wkwk.
Dan akhirnya gayung bersambut.
Ternyata LPDP juga ‘mencintai’ Dea. Cinta Dea diterima. Sekitar jam 4 dea
mengirim foto hasil pengumuman seleksi wawancara atau seleksi terakhir tersebut.
Di foto itu Dea cantik sekali, seperti biasanya. Saya benar-benar lega dan bahagia.
Selamat Dea cintamu diterima. Kamu
layak mendapatkannya. Sangat layak malah.
Seperti yang kita sama-sama tahu De, mendapatkan cinta memang sulit dan penuh perjuangan, tetapi menjaga dan merawatnya adalah hal yang benar-benar butuh keteguhan hati dan kesabaran.
Hari ini adalah awal. Hari ini adalah tanggal jadianmu dengan Negeri ini. Selanjutnya dan yang sebenanrnya adalah bagaimana Dea menikmati proses-proses setelah ini. Selamat menjaga dan merawat cintamu kepada
Negeri yang akhir-akhir ini sedang yaa… seperti ini. Aku yakin Dea bisa.
Untuk mengakhiri ucapan selamat
ini, kalau boleh, saya ingin meminjam template dari IG Story teman-teman Kementerian
Keuangan yang sering mengutip quotes Ibu Sri Mulyani,
“JANGAN PERNAH LELAH MENCINTAI NEGERI
INI”

Komentar
Posting Komentar