Ibu, Pecakan Cucut dan Sayur Asem
Tepat tiga tahun lalu Ibu pulang kampung. Setelah sekian tahun berjuang dengan gigih dan berani melawan penyakitnya di dunia, Akhirnya Tuhan dengan segala welas asihnya memberikan kemenangan untuk Ibu. Sebagai imbalan atas kemenangan Ibu, Tuhan menyuruh Ibu mengambil hadiahnya di kampung halaman.
Ibu pulang kampung sendirian, meninggalkan Bapak, adik, kedua mbakyu dan aku. Kemenangan Ibu sangat mendadak. Ibu tidak mengucapkan kata-kata pamit apa pun kepadaku. Sebab saat mendengar kabar ibu akan pulang, aku sedang UAS di kampus. Setelah aku sampai di rumah, Ibu sudah berkemas. Ibu hanya diam dan tersenyum. Kami hanya mengantar Ibu sampai terminal. Dan Ibu benar-benar pulang sendirian.
Semua penduduk di sini adalah perantau dari kampung halaman yang sama. Aku sadar, sebagai perantau suatu saat akan pulang. Namun aku tidak menyangka Ibu akan pulang secepat itu.
Ada banyak hal yang belum aku selesaikan dengan Ibu. Ada banyak janji dalam hati yang belum aku tunaikan. Tapi aku yakin, ada alasan-alasan dibalik kemenangan yang lebih cepat yang Tuhan berikan kepada Ibu.
Ibu adalah orang yang keras dan galak. Sejak SD, nilai ku selalu ditanya oleh Ibu.
"Kenapa bisa seperti ini?" tanya ibu dengan nada yang datar dan menakutkan ketika nilaiku tak sesuai harapan beliau. Selanjutnya Ibu akan menceramahiku tentang pentingnya belajar supaya pintar dan mendapat nilai bagus.
Kalau dibandingkan dengan cara parenting modern, mungkin cara Ibuku mendidik dianggap kurang baik. Cara Ibu yang terlalu keras bisa membuatku tertekan dan mungkin saja depresi. Awalnya saya juga merasa demikian.Tapi belakangan aku sadar, cara ibu ini adalah cara terbaik mendidikku.
Tekanan dari ibu memaksaku mengeluarkan semua kemampuan yang aku punya. Tekanan dari Ibu membuatku belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dan dari tekanan Ibu, aku jadi terbiasa menghadapi tekanan-tekanan berikutnya dalam hidup.
Hingga suatu saat ketakutanku pada kemarahan Ibu ketika mendapat nilai jelek membuahkan hasil yang cukup bagus. Seringnya mendapat ranking 1, walaupun saat SD. hehe~
Diantara hal yang membuatku bertahan dalam tekanan galaknya Ibu adalah sifat Ibu yang lainnya. Ibu juga mempunyai sisi yang bertolak belakang dari sifatnya yang pertama. Beliau sangat sabar. Hal ini dibuktikan dengan sabarnya beliau menghadapi aku yang banyak maunya. Terutama kalau sudah berhubungan dengan mainan.
Ada peristiwa yang membuatku tersenyum jika mengenangnya.
Sama seperti anak kecil laki-laki pada umumnya, Aku suka sekali mainan. Jika aku ingin mainan aku pasti merengek kepada ibu. Ibu memang tidak langsung menuruti. Pasti terjadi adu argumen yang cukup alot antara kami. Namun hasil akhirnya pasti sama, Ibu luluh. Setelah ibu menurutiku membeli mainan, biasanya dia akan mengucapkan kalimat sakral.
Sama seperti anak kecil laki-laki pada umumnya, Aku suka sekali mainan. Jika aku ingin mainan aku pasti merengek kepada ibu. Ibu memang tidak langsung menuruti. Pasti terjadi adu argumen yang cukup alot antara kami. Namun hasil akhirnya pasti sama, Ibu luluh. Setelah ibu menurutiku membeli mainan, biasanya dia akan mengucapkan kalimat sakral.
"wes lho janji, iki terakhir!"
"nggeh, Mak."
Dialog itu terjadi setiap Ibu sudah membelikan mainan baru. Sampai mainanku banyak sekali. Ibu tetap membelikanku mainan baru dan mengulangi kalimat sakralnya. Dari segi ini saja dapat mewakili betapa sabarnya Ibu, Ibu selalu sabar meskipun anak lanangnya ini berulang kali melanggar janji. Terimakasih Ibu.
Hampir semua orang mengamini bahwa Ibu mereka masing-masing adalah chef yang paling handal. Contohnya adalah di film Ratatouille. Dimana ada jurnalis makanan yang sangat perfectionis terpesona dengan masakan sederhana sebuah restoran yang hampir bangkrut. Apa sebab? ternyata rasa masakan itu berhasil mengingatkannya dengan rasa masakan Ibunya saat Ia kecil. Sebab, disadari atau tidak, masakan Ibu kita sudah menjadi acuan buat pembanding dengan masakan lain.
Begitu pula denganku yang menganggap masakan Ibu adalah masakan yang paling lezat. Masakan yang paling tidak terlupakan dan menjadi favoritku adalah sayur asem dan pecakan cucut (ikan tengiri) ditemani dengan tempe goreng yang baru mentas dari penggorengan.
Perpaduan antara sayur asem yang panas-panas seger dengan cucut berlumur sambel tomat serta gurihnya tempe yang baru mentas dari wajan adalah kenikmatan makan yang paling paripurna menurutku. Kenikmatan yang sampai sekarang belum pernah aku rasakan lagi.
Pecakan cucut yang pedas seakan menggambarkan Ibu yang galak dan pedes. Sayur asem yang gurih nan segar selaras dengan Ibu yang selalu sabar menyegarkan dahaga keinginanku. Keduanya berpadu dengan pas, saling melengkapi. Dari sayur asem, aku jadi lebih bisa menikmati empuknya cucut dalam pecakan cucut yang pedas. Dari pecakan cucut yang pedas, saya bisa lebih merasakan kesegaran sayur asem.
Begitu pula dengan galak dan sabarnya kasih sayang Ibu yang menjadi perpaduan sempurna dan sangat berpengaruh dalam pertumbuhanku. Jika Ibu hanya galak terus menerus dan tak pernah menuruti keinginanku, aku mungkin bisa benar-benar gila. Dan jika Ibu menuruti semua kemauanku terus menerus tanpa ada tekanan yang diberikan niscaya Aku akan menjadi manjadi lemah.
Ibu memberikan "pecakan cucut" dan "sayur asem" sehingga aku bisa menikmati "pedas" dan "segar"nya hidup dalam satu sendokan.
Sekarang Ibu sudah di kampung halaman dan menikmati hadiah dari Tuhan. Aku berdoa untuk kebahagiaan Ibu di sana.
Suatu saat, saat tiba masanya, aku pasti pulang. Sembari menunggu waktu pulang, aku akan berdoa dan memelas kepada Tuhan sehingga Dia kasihan denganku dan mengizinkanku menikmati lagi pecakan cucut dan sayur asem buatan Ibu. Boleh kan Tuhan?
Komentar
Posting Komentar