Lalala Lilili
Nyaring suara telepon dari Dea
membangunkanku lagi. Seperti sebelum-sebelumnya, aku kedinginan karena kipas
angin yang masih berputar. Matahari sudah terbit, sinarnya melewati kisi-kisi di
atas jendela. Kerongkongan terasa kering sekali dan saya suka saat membersihkan
belek-belek di ujung-ujung mata, itu nikmat sekali.
Sebenarnya aku masih bingung, dengan
kebijakan yang diambil orang-orang berwenang. Aku rindu pahlawan kebajikan. Dia
tidak pernah mengeluarkan kebijakan. Terkadang, dia cuma suka pamer. Tapi tidak
apa-apa, daripada pamer ketololan yang sialnya berjilid-jilid.
Komentar
Posting Komentar