Lalala Lilili

Nyaring suara telepon dari Dea membangunkanku lagi. Seperti sebelum-sebelumnya, aku kedinginan karena kipas angin yang masih berputar. Matahari sudah terbit, sinarnya melewati kisi-kisi di atas jendela. Kerongkongan terasa kering sekali dan saya suka saat membersihkan belek-belek di ujung-ujung mata, itu nikmat sekali.

Sebenarnya aku masih bingung, dengan kebijakan yang diambil orang-orang berwenang. Aku rindu pahlawan kebajikan. Dia tidak pernah mengeluarkan kebijakan. Terkadang, dia cuma suka pamer. Tapi tidak apa-apa, daripada pamer ketololan yang sialnya berjilid-jilid.

Aku siap-siap berangkat lagi, menuju antrean panjang untuk mati. Atau untuk hidup lagi? Terserah kalian percaya yang mana. lalala..lilili...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa?

Raungan Ruangan