Harapan dan Doa
Hari pertama di tahun 2020 saya lagi-lagi
kesiangan salat subuh. Tidur sekitar jam dua pagi, setelah ngopi dan makan ikan
nila bakar sepiring besar, saya tidak menghitungnya. Baru saja saya berpikir,
padahal saya ngopi, mengapa saya tidak bisa bertahan sampai pagi, setidaknya
subuh. Hmm … dan baru saja saya ingat kemarin saya memesan es coklat alih-alih
kopi. Pantas.
Setelah bangun dan salat dhuha
dengan qunut, saya membalas chat Dea yang tertulis masuk pada pukul 03.00 pagi
tadi yang isinnya dia juga masih ingat peristiwa twitter 2013-2014 itu.
Saat momen tahun baru seperti ini
yang saya ingat dari Dea adalah chat di twitter 6 Tahun silam. Tepatnya pada pergantian
tahun 2013 ke 2014. Saya lupa awalnya bagaimana, tiba-tiba kami membuat
perjanjian yang intinya kita akan pacaran di menit 2013. Setelah itu selesai di
menit awal 2014. Absurd memang. Saya geli tetapi selalu teringat. Hahaha.
Mengawali decade ini harapanku
adalah bersepeda sehat kelilinng kota Palangka. Namun, harapan tinggal harapan,
pagi tadi gerimis turun tipis-tipis sehingga hawa terasa sangat sejuk. Sarung
dan guling adalah teman paling paripurna untuk mewujudkan mimpi alias tidur.
Saya terbangun ketika orang-orang
sudah selesai jamaah salat dhuhur di masjid. Scroll-scroll timeline twitter kemudian
mengetahui berita banjir di beberapa kota Di Indonesia, antara lain yang saya
ketahui adalah di Jakarta, Bekasi dan Cipanas.
Ketika ada musibah (bencana) saya
bisa melihat aslinya orang Indonesia. Beberapa ada yang memaklumi adanya banjir
karena curah hujan yang memang tinggi. Beberapa lagi ada yang menyalahkan Pemprov
Jakarta beserta Gubernurnya karena buruknnya pengelolaan bencana tahunan ini.
Beberapa lagi membagikan tangkapan layar berita tentang komentar terhadap
banjir dari Presiden saat ini ketika masih menjadi walikota dan gubernur. Beberapa
memprediksi akan ada yang menyalahkan perayaan malam tahun baru sebagai sebab
dari bencana ini (sampai tulisan ini dibuat saya belum melihat ada yang menyalahkan
perayaan malam tahun baru dan tidak mencari-carinya).
Dari sekian banyak komentar
memang ada benarnya pada porsinya masing-masing. Memang masih banyak system yang salah,
memang masih banyak yang harus pemerintah dan kita benahi ke depannya. Namun, ayolah
kawan, untuk saat ini keselamatan saudara-saudara yang terdampak banjir adalah
yang paling utama. Boleh kok setelah ini, kalian melanjutkan perdebatan panjang
kalian itu. Boleh kok, kalian menuntut pemeritah untuk lebih baik lagi, dan itu
harus.
Saya sangat respect kepada kawan-kawan
yang memanfaatkan teknologi media social untuk berbagi informasi kepada tim
penolong dan yang membutuhkan pertolongan. Mungkin itu hal kecil dengan retweet,
share, atau broadcast tetapi menurut say aitu sangat membantu tim penolong
untuk mengetahui di titik mana yang membutuhkan pertolongan dan apa saja yang
perlu disiapkan.
Sampai saat tulisan ini dibuat
masih ada beberapa broadcast yang menunjukan adanya korban yang terjebak banjir
di rumahnya. Dan masih terus bergerak juga tim-tim penolong dari berbagai pihak
dan Lembaga.
Saya berterimakasih sekali kepada
semuanya, semuanya yang bergerak saling bahu membahu, tolong-menolong dalam
menghadapi bencana ini.
Saya berdoa, semoga kalian semua
diberi kekuatan dan kesehatan untuk menghadapi bencana ini. Yang masih terjebak
segera mendapat pertolongan dan bencana banjir ini lekas selesai. Aamiin.
Semoga Tuhan memberi kalian semua
kekuatan yang lebih.
Dan semoga nanti saya tidak
terlambat subuhan lagi. Karena saya ingin membantu, setidaknya dengan berdoa. Peluk Jauh dari Palangka Raya. Saya mencintai kalian semua.
Komentar
Posting Komentar